Kamis, 19 Mei 2011

lebih baik, lebih menang...

kau pikirlah aku pecundang. bahkan aku tak masuk akalmu...
perdulikah? siapa mau. masih harus aku perduli yang lain...
kau hanya satu, tidak seribu. kalaupun seribu, tidak sejuta...
matahari beri senang yang satu, lalu marah yang lain...

bukan sesuatu, apa kau tau? kalaulah iya, lalu?
aku, mereka, kami, bukan kau...
bilapun kau, siapa? kau beri apa? hanya pikir, bukan apa-apa...

biarlah tentukan sendiri. jangan kau lihat, buta lebih baik...
mungkin hanya aku dan rasa, tapi kau lihat. aku tidak denganmu, dan kau anggap rusak...
aku bersandar bersama pikiranku. pasti ada kau yang lain...

jika salah, maaflah. jika benar, biarkanlah...
aku tidak sendiri, kau sama saja. walau hanya jalan yang tidak sama...
aku tak ingin sebut kita, karena aku tidak ada kau. dan aku bukan hidupmu...

lebih baik, lebih menang...

ingin, setidaknya...

pikiran yang bercampur, kata ingin memenuhi ruangan.
lakukan dan sedikit pertolongan, biar ingin ini berkurang.

semua tertulis di selembar kertas, dari satu hingga sekian.
terisi dengan ingin, yang mungkin bukan hanya.

jika ingin adalah sebuah kata, mungkin hidup akan mudah.
tapi bukan hidup namanya jika mudah, dan ingin membuatnya semakin jauh.

sebuah bentuk lain dari ingin, membuka mata sebuah nyata.
mengejar ingin, terjatuhlah. tapi tetap ingin, tak ada rasanya jatuh.

berpikir tentang ingin, menunggunya hilang.
di ujung jalan terperosok jauh, merangkak pun tak mampu.
dan tak sadar, mungkin kau lupakan ingin, sebuah kata, dan hidup.

setidaknya aku punya ingin, di kemudian hari bisa saja harus. di hari lain mungkin butuh.

Selasa, 17 Mei 2011

di ujung pikiranmu...

kau tua, bersama pikiranmu. di ujung pikiranmu, ada aku...
di sebelahku, dan kau bilang mengerti...
aku sadar, tapi mampu? kau bilang aku pasti...
mencoba, bukan lari darinya. tak dapat, jangan sesalkan...

aku tak semudah pikiranmu, aku terlalu jauh...
melihatmu berdiri, kuat terlihat. aku tak bisa biarkan...
terlalu banyak, teramat banyak. kau ajarkan...
ganti? dengan apa aku bisa?

sedikit saja waktu, dan kau lihat aku berdiri disana...
bersama harapmu, bersama inginmu, bersama nyata hidupmu...
aku ragu, kau disana. dan aku katakan, bisa...
di ujung pikiranmu, tak hanya aku. setidaknya aku ada...

dan aku bukan kau. mungkin bukan aku.

bukan, tidak seharusnya. apakah disini?
aku, tidak berkawan. tidak kawan, bukan aku.
kau lah jalanmu, kawanku bukan ini. entah siapa aku berkawan.
dan aku bukan kau. mungkin bukan aku.


dimana tempatnya? entahlah, kau tak ingin tau kurasa.
biar aku temukan, di sudut khayal. semoga tidak.
kau temukanlah dirimu, temani saja langkahmu.
biar nanti kita bertemu,
dan aku bukan kau. mungkin bukan aku


aku tak menutup mata, tau kau ada.
hanya tak ingin dengar, walau tak menutup telinga.
lihat, aku tau. mendengar, tak ingin lah.
tau, bukan berarti mau. kau dekat? jauh lah.
dan aku bukan kau. mungkin bukan aku

Selasa, 10 Mei 2011

sebuah refleksi

"aku ingin menjadi bintang film" kata seorang teman padaku, satu jam setelah dia bilang ingin jadi penyanyi. dan satu minggu setelah dia bilang ingin jadi presenter. dan beberapa hari kemudian dia bilang ingin jadi penyiar radio.

sepertinya dia tidak mengatakan keinginannya ini hanya kepadaku, mungkin dia juga katakan kepada orang tuanya, kepada temannya, kepada saudara-saudaranya. dan entah kepada siapa lagi.

tapi entah kenapa, dia tidak cerita tentang satu saja keberhasilan yang dia raih dari keinginannya. mungkin belum, karena mungkin dia masih berusaha. walau sudah setengah tahun dan untuk ukuran "belum", setengah tahun sudah cukup lama. tapi ya sudahlah, semoga nanti dia berhasil.

satu hal yang membuatku tidak nyaman dari ceritanya adalah, dia membuatku seakan sedang bercermin. aku membayangkan dia adalah aku di dunia lain, di dunianya.

sebuah refleksi


menurutku, dia memang punya bakat dalam bidang entertainment. dia bisa mencairkan suasana, dia pandai memetik gitar, dan dengan kelakuannya yang aneh dia selalu jadi pilihan utama jika aku dan teman-teman ingin tertawa. tapi dia punya satu hal yang - kata bapakku - aku juga punya, takut mencoba.

mungkin dia mengharapkan keajaiban. sesorang produser ternama datang kepadanya lalu menawarkannya untuk menjadi pembawa acara di sebuah stasiun televisi, tanpa harus mengikuti casting atau mempertontonkan kebolehannya. tidak mungkin kita dipanggil untuk bekerja jika kita belum melamar pekerjaan.


aku teringat cerita ayahku tentang orang yang sudah mampu tapi belum menunaikan ibadah haji. bapakku bertanya pada si orang mampu "kenapa anda belum menunaikan ibadah haji?". lalu si orang mampu itu menjawab "belum dapat panggilan". alasan klise dari hampir semua orang mampu yang mungkin menolak untuk menunaikan ibadah haji. lalu bapakku berkata "bagaimana bisa dipanggil jika belum melamar?".

sekedar intermezzo.



aku pernah membaca sebuah quote dari Albert Einstein "if A is succes in life, then A = X + Y + Z
X = work, Y = play, Z = keeping your mouth shut". aku menuliskannya dengan caraku sendiri supaya lebih mudah dipahami kupikir.

Z adalah satu-satunya hal yang tidak aku lakukan, dan mungkin sudah dibuktikan oleh orang-orang sukses disana. dan aku harus mulai belajar untuk menutup mulutku dari "sampah-sampah" keinginan yang dibuang di sembarang tempat. dan aku harus mulai secepatnya.


biarlah hanya aku, hatiku dan Tuhan yang tau apa yang aku ingin lakukan, apa yang ingin aku dapatkan dan apa yang ingin aku berikan. cukup lah.

Senin, 02 Mei 2011

salah...

Salah…

Manusiawi sekali.

Kadang kita harus melewati tahap salah untuk sampai pada sebuah kebenaran.

Salah berpendapat, salah berucap, salah strategi, salah mengambil keputusan. Bahkan, jika ingin menuju ke suatu tempat yang asing, kita sering salah jalan. Lalu bertanya pada orang di sekitar, sampai akhirnya kita menemukan tempat yang kita tuju. Sebuah kebenaran.

Salah bukan berarti kehancuran, kegagalan, atau akhir dari sebuah perjalanan. kadang kesalahan adalah awal dari perjalanan dan menuntun kita kepada kebenaran-kebenaran yang tidak terduga sebelumnya. Thomas alpha Edison berhasil menciptakan lampu setelah 999 kali salah menggunakan bahan dasar. Dan dia tidak menganggap dirinya salah atau gagal, dia merasa menemukan 999 bahan yang tidak bisa digunakan sebagai bahan dasar lampu. Optimisme dan positive thinking, maybe that’s the key.

Salah…

Sangat manusiawi.

Dan sebagai seorang manusia, hidup kita penuh kesalahan. Kadang, pada suatu waktu aku dipaksa mengingat kembali kesalahan-kesalahan itu. Mengingat kembali raut wajah orang yang kuanggap salah, dan pada akhirnya aku sadar bahwa aku yang salah.

Seorang teman yang membanggakan hasil karyanya kepadaku berupa dentingan gitar dan beberapa bait syair lagu. Lalu aku bilang “syairnya tidak hebat, terlalu biasa. Coba kau dengar lagu ku” dan aku menyanyikan beberapa bait syair milikku.

Dan aku mengingat wajahnya, wajah putus asa dan merasa tidak dihargai. Bahkan mungkin di dalam hatinya dia berkata “syairmu tidak lebih baik dari punyaku”. Mungkin, karena hati hanya kau dan Tuhan saja yang tau. Dan aku sadar bahwa aku salah. Entah dia masih mengingatnya atau tidak, tapi aku masih ingat dengan jelas keadaan saat itu.

Seseorang yang aku salahkan karena janjinya tidak ditepati, padahal aku sering tidak menepati janjiku padanya. Atau orang yang aku salahkan pendapatnya, karena menurutku dia melihat dari sudut pandang yang salah. dan ternyata, sudut pandangnya menyimpan kebenaran lain.

Walau tak jarang, aku juga di salahkan karena pendapat yang aku kemukakan tidak sesuai dengan sudut pandang mereka. Tapi tidak masalah. Aku melihat ada 2 kemungkinan disana, aku memang salah atau benar kata orang bijak “beberapa manusia hanya ingin mendengar apa yang mereka ingin dengar, walaupun itu salah. dan tidak perduli dengan apa yang mereka dengar jika tidak sependapat, walau itu benar”

Entahlah, dan aku berharap menemukan kebenaran di setiap permasalahan.

Tak jarang aku mengemukakan pendapat yang sering membuat orang lain tidak terima. Entah itu masalah dunia ataupun agama. Padahal aku hanya ingin bertukar pikiran, ingin tau apakah pendapatku salah, dan ingin tau buku apa saja yang menjadi landasan pemikikiran mereka.
Tapi mereka menganggap aku sok pintar, tidak suka menerima pendapat orang lain, dan yang pasti mereka menganggapku salah. manusiawi.

Aku sadar bahwa aku adalah manusia, yang sering salah. tapi menurutku, saat kau sadar bahwa kau salah atau saat kau sadar kau ragu dengan suatu masalah, akan ada keinginan untuk mencari kebenaran. Untuk dibenarkan, atau memperbaikinya. Dan kesadaran adalah titik awal terungkapnya kebenaran, mungkin. Tidak masalah jika aku salah, aku percaya akan ada yang membenarkan entah darimana. Dan salah satu permintaanku kepada Tuhan adalah ditunjukan kebenaran jika aku salah, dan diyakinkan jika aku benar. Dan aku percaya Tuhan mengabulkan doa.

Tidak sedikit orang berkata “aku tidak tau, ilmuku belum sampai kesitu” lalu tidak perduli dan menghilang di balik tirai ketidakingintahuan. Jika dia sadar bahwa dia tidak tau, kenapa tidak mencari tau?. Tapi aku tidak menyalahkannya, karena aku takut nantinya malah aku yang salah. Walau sejujurnya aku menyayangkan hal itu, karena ada kemungkinan bahwa aku salah dan mungkin dia bisa membenarkan kesalahanku.

Aku punya seorang teman, dan aku senang karena dia mengerti artinya berdebat dan bertukar pikiran. Dan aku selalu senang karena dia tau banyak hal, yang aku tidak tau. Dan terkadang dia mengakui bahwa aku tau sesuatu hal yang dia tidak tau.

Biasanya aku yang banyak bertanya, kadang pertanyaan yang aku benar-benar tidak tau. Jika dia juga tidak tau, dia tidak akan berhenti mencari informasi. Hingga akhirnya kami berdua tau. Dan tak jarang aku mengajukan pertanyaan untuk tau pendapatnya, dari sudut pandang mana dia melihat, dan artikel mana yang dijadikannya bahan pemikiran.


Temanku yang lain pernah bercerita, “kita hampir sama kawan. aku sadar sudah terlalu banyak keragu-raguan terhadap pemikiran dan pendapatku, antara benar dan salah”.
“lalu, Apa yang kau lakukan?” aku bertanya.
“kesadaran itu menuntunku untuk mencari tau langsung kepada Yang Maha Mengetahui. Dan aku mulai membaca Al-Qur’an” lanjutnya.

“Guruku bilang membaca Al-Qur’an itu membuat kita cerdas, karena banyak ilmu di dalamnya. Bukan hanya ilmu agama dan akhirat, tapi juga ilmu dunia dan kebenarannya. dengan syarat, kita juga harus membaca terjemahannya” lanjutnya. Dan aku mulai tertarik mendengar ceritanya.

“Dia juga bilang, membaca Al-Qur’an dengan benar itu melatih kerja otak, karena kita bukan hanya membaca, tapi juga menyuarakan, dan mendengar sekaligus dalam satu waktu. Dan lagi membuat kita sehat karena nafas yang harus di atur membuat jantung bekerja dengan baik. Selain juga membuat kita tenang lahir dan bathin, dan ganjaran yang sudah dijanjikan oleh Tuhan” katanya. Aku terkesima mendengar ceritanya, dia sudah banyak berubah.

Dulu aku mengenalnya sebagai seseorang yang ‘bodoh’. menganggap mabuk bisa meringankan bebannya. Dan sebagai teman, aku ikut menemaninya. Yang berarti bahwa aku juga bodoh. Tapi kini, aku seperti baru mengenalnya.


Dan si ‘bodoh’ ini menyadarkan aku bahwa aku salah.

Jumat, 01 April 2011

bapakku dan ke'sombong'annya part 1

seorang pria separuh abad yang biasa aku panggil bapak. seorang seniman terbaik Indonesia ke-5 (menurutku) setelah Deddy Mizwar, Iwan Fals, Aria Kusuma Dewa dan Achmad Fahmi Alatas. seorang teman, guru, sekaligus idolaku. seorang pencinta Rolling Stones yang sangat tahu bagaimana caranya menirukan Mick Jagger bernyanyi. seorang yang paling ku percaya dalam menilai sebuah karya

dan salah satu orang yang percaya bahwa aku berharga.

aku senang mendengarnya bercerita, menyombongkan masa mudanya yang hebat. seorang pencinta alam, pemain teater, olahragawan, dan kutu buku sekaligus dalam satu jiwa. walaupun dia sering mengulang cerita yang sama beberapa kali, tapi aku tetap mendengarkan.

aku ingat percakapan malam itu, saat dia menceritakan masa mudanya dulu. ibuku juga disana.
"dulu bapak ganteng mas, pacarnya banyak" ibuku memancing kenangan lama bapak. "playboy dia dulu, cakep-cakep semua lagi pacarnya" ibuku menambahkan dan senyum bapak merekah terlihat bangga. "mas mana pacarnya? payah nih, kehebatan bapak nggak nurun" sepertinya bulan purnama dan angin sepoy-sepoy membuat pertanyaan itu menjadi sebuah teror mengerikan (mungkin sedikit berlebihan).

salah satu cerita yang membuatku sangat iri adalah saat dia bercerita tentang seorang wanita yang keluar dari mobil sedan dan masuk ke sebuah gang kecil di mana rumah kakekku dulu berada. saat dia sedang asik bernyanyi sambil bermain gitar bersama teman-temannya, dan si wanita yang 'berperan' sebagai mantan pacar bapak ini memberikan bunga mawar dengan harapan bisa mengambil hati (petikan lirik lagu) bapakku lagi.

anda sangat beruntung tuan.

ibuku ikut menambahkan, dan masih tentang wanita di atas. saat itu bapakku sedang mencoba mendekati ibuku, datang setiap malam minggu hanya untuk numpang minum kopi (bikin malu saja).

kembali ke si wanita.

pada suatu hari (zzzz...), si wanita yang berpikir bapakku punya hubungan spesial dengan ibu, mendatangi ibu dan menanyakan perihal hubungan mereka (kayak tulisan skenario sinetron). dan sambil menangis, si wanita meminta ibu agar melepaskan bapak supaya dia bisa pacaran lagi sama bapak. kau benar-benar pria yang beruntung kawan. "ambil aja, orang kita juga nggak ada apa-apa" kata ibu. tapi jodoh berkata lain.


dan cerita ini hanya satu dari sekian banyak ke'sombong'an yang bapakku ceritakan...