Selasa, 24 Mei 2011

selamat,, terimakasih...

selamat malam tuan-tuan dan nyonya-nyonya. tak sengaja selebritis atau diselebritiskan?
apa kabarnya? hanya di layar saja sejak pesta perkenalan kemarin.
ajaklah kami rekreasi, bukankah kami juga sudah membayar?

kami hanya sesalkan karena anda hanya sesalkan.
kami hanya mampu prihatin karena anda merasa prihatin, atau memprihatinkan?
kami sangat berharap kepada anda yang hanya berharap, sama kah harapannya?

kami ingin tidur, tapi kalian sedang tidur.
siapa yang akan terjaga dan menjaga? yang terbangun dan membangun?
banting tulang mencari uang, wajar mungkin kalian lelah.
entah tulang siapa yang dibanting, yang penting cari uang dan lelah.

kami terkesan, kalianlah inspirasi.
hidup itu harus pandai bersiasat, dan kalian ajarkan kami bersiasat. jurus melarikan diri seperti ninja, membuat struktur cerita yang hebat layaknya seorang sutradara, memaksimalkan canggihnya perkembangan tekhnologi.
sungguh kalian inspirasi.

terimakasih, kalian ajarkan banyak kepada kami. kepada anak-anak dan kawan-kawan kalian, juga masa depan kami.
kami tak mungkin mampu membalas kebaikan kalian, tapi kami yakin Tuhan akan membalas kalian. atas pelajaran dan inspirasi yang berharga dari kalian untuk kami.

kami tunggu kalian-kalian selanjutnya dan sampai jumpa dengan kami-kami selanjutnya.

Senin, 23 Mei 2011

kematian Tuhan

"ke mana Tuhan? kubilang kepada kalian, kita sudah membunuhnya. tetapi bagaimana kita melakukannya? bagaimana kita mampu meminum habis air samudra? siapa yang memberi kita busa untuk menyapu seluruh cakrawala? apa yang kita lakukan ketika kita lepaskan bumi dari mataharinya? ke mana bumi ini bergerak kini? kemana sekarang kita bergerak? menjauhi semua matahari? apakah kini kita terguling terus-menerus? ke belakang, ke pinggir, ke depan, ke seluruh arah? masihkah tersisa ke atas atau ke bawah? tidakkah kita terkatung-katung dalam ketiadaan tanpa batas? tidakkah kita merasakan napas dari ruang hampa? tidakkah udara menjadi lebih sejuk? tidakkah malam dan malam-malam lain mendatangi kita? mestikah lentera di nyatakan di pagi hari? masih belumkah kita dengar, suara penggali kubur yang sedang menguburkan Tuhan? belumkah kita cium bau jenazah Tuhan yang membusuk? Tuhan-Tuhan juga bisa busuk. Tuhan sudah mati. Tuhan akan tetap mati. dan kita sudah membunuhnya. bagaimana mungkin kita, pembunuh dari segala pembunuh, dapat menghibur diri? yang pernah menjadi paling suci dan paling perkasa, telah jatuh berlumuran darah karena pisau-pisau kita? siapa yang akan menghapuskan darah ini dari tubuh kita? adakah air untuk membersihkan diri kita? upacara pertobatan apa? ibadah suci macam apa yang akan kita ciptakan? bukankah kebesaran perbuatan ini terlalu besar buat kita? tidakkah kita sendiri menjadi Tuhan supaya layak berbuat seperti itu? tidak pernah ada perbuatan lebih besar dari itu dan siapa saja yang lahir setelah kita-demi perbuatan ini ia akan menjadi bagian dari sejarah yang lebih tinggi dari segala sejarah." - Friedrich Nietzsche

Kamis, 19 Mei 2011

lebih baik, lebih menang...

kau pikirlah aku pecundang. bahkan aku tak masuk akalmu...
perdulikah? siapa mau. masih harus aku perduli yang lain...
kau hanya satu, tidak seribu. kalaupun seribu, tidak sejuta...
matahari beri senang yang satu, lalu marah yang lain...

bukan sesuatu, apa kau tau? kalaulah iya, lalu?
aku, mereka, kami, bukan kau...
bilapun kau, siapa? kau beri apa? hanya pikir, bukan apa-apa...

biarlah tentukan sendiri. jangan kau lihat, buta lebih baik...
mungkin hanya aku dan rasa, tapi kau lihat. aku tidak denganmu, dan kau anggap rusak...
aku bersandar bersama pikiranku. pasti ada kau yang lain...

jika salah, maaflah. jika benar, biarkanlah...
aku tidak sendiri, kau sama saja. walau hanya jalan yang tidak sama...
aku tak ingin sebut kita, karena aku tidak ada kau. dan aku bukan hidupmu...

lebih baik, lebih menang...

ingin, setidaknya...

pikiran yang bercampur, kata ingin memenuhi ruangan.
lakukan dan sedikit pertolongan, biar ingin ini berkurang.

semua tertulis di selembar kertas, dari satu hingga sekian.
terisi dengan ingin, yang mungkin bukan hanya.

jika ingin adalah sebuah kata, mungkin hidup akan mudah.
tapi bukan hidup namanya jika mudah, dan ingin membuatnya semakin jauh.

sebuah bentuk lain dari ingin, membuka mata sebuah nyata.
mengejar ingin, terjatuhlah. tapi tetap ingin, tak ada rasanya jatuh.

berpikir tentang ingin, menunggunya hilang.
di ujung jalan terperosok jauh, merangkak pun tak mampu.
dan tak sadar, mungkin kau lupakan ingin, sebuah kata, dan hidup.

setidaknya aku punya ingin, di kemudian hari bisa saja harus. di hari lain mungkin butuh.

Selasa, 17 Mei 2011

di ujung pikiranmu...

kau tua, bersama pikiranmu. di ujung pikiranmu, ada aku...
di sebelahku, dan kau bilang mengerti...
aku sadar, tapi mampu? kau bilang aku pasti...
mencoba, bukan lari darinya. tak dapat, jangan sesalkan...

aku tak semudah pikiranmu, aku terlalu jauh...
melihatmu berdiri, kuat terlihat. aku tak bisa biarkan...
terlalu banyak, teramat banyak. kau ajarkan...
ganti? dengan apa aku bisa?

sedikit saja waktu, dan kau lihat aku berdiri disana...
bersama harapmu, bersama inginmu, bersama nyata hidupmu...
aku ragu, kau disana. dan aku katakan, bisa...
di ujung pikiranmu, tak hanya aku. setidaknya aku ada...

dan aku bukan kau. mungkin bukan aku.

bukan, tidak seharusnya. apakah disini?
aku, tidak berkawan. tidak kawan, bukan aku.
kau lah jalanmu, kawanku bukan ini. entah siapa aku berkawan.
dan aku bukan kau. mungkin bukan aku.


dimana tempatnya? entahlah, kau tak ingin tau kurasa.
biar aku temukan, di sudut khayal. semoga tidak.
kau temukanlah dirimu, temani saja langkahmu.
biar nanti kita bertemu,
dan aku bukan kau. mungkin bukan aku


aku tak menutup mata, tau kau ada.
hanya tak ingin dengar, walau tak menutup telinga.
lihat, aku tau. mendengar, tak ingin lah.
tau, bukan berarti mau. kau dekat? jauh lah.
dan aku bukan kau. mungkin bukan aku

Selasa, 10 Mei 2011

sebuah refleksi

"aku ingin menjadi bintang film" kata seorang teman padaku, satu jam setelah dia bilang ingin jadi penyanyi. dan satu minggu setelah dia bilang ingin jadi presenter. dan beberapa hari kemudian dia bilang ingin jadi penyiar radio.

sepertinya dia tidak mengatakan keinginannya ini hanya kepadaku, mungkin dia juga katakan kepada orang tuanya, kepada temannya, kepada saudara-saudaranya. dan entah kepada siapa lagi.

tapi entah kenapa, dia tidak cerita tentang satu saja keberhasilan yang dia raih dari keinginannya. mungkin belum, karena mungkin dia masih berusaha. walau sudah setengah tahun dan untuk ukuran "belum", setengah tahun sudah cukup lama. tapi ya sudahlah, semoga nanti dia berhasil.

satu hal yang membuatku tidak nyaman dari ceritanya adalah, dia membuatku seakan sedang bercermin. aku membayangkan dia adalah aku di dunia lain, di dunianya.

sebuah refleksi


menurutku, dia memang punya bakat dalam bidang entertainment. dia bisa mencairkan suasana, dia pandai memetik gitar, dan dengan kelakuannya yang aneh dia selalu jadi pilihan utama jika aku dan teman-teman ingin tertawa. tapi dia punya satu hal yang - kata bapakku - aku juga punya, takut mencoba.

mungkin dia mengharapkan keajaiban. sesorang produser ternama datang kepadanya lalu menawarkannya untuk menjadi pembawa acara di sebuah stasiun televisi, tanpa harus mengikuti casting atau mempertontonkan kebolehannya. tidak mungkin kita dipanggil untuk bekerja jika kita belum melamar pekerjaan.


aku teringat cerita ayahku tentang orang yang sudah mampu tapi belum menunaikan ibadah haji. bapakku bertanya pada si orang mampu "kenapa anda belum menunaikan ibadah haji?". lalu si orang mampu itu menjawab "belum dapat panggilan". alasan klise dari hampir semua orang mampu yang mungkin menolak untuk menunaikan ibadah haji. lalu bapakku berkata "bagaimana bisa dipanggil jika belum melamar?".

sekedar intermezzo.



aku pernah membaca sebuah quote dari Albert Einstein "if A is succes in life, then A = X + Y + Z
X = work, Y = play, Z = keeping your mouth shut". aku menuliskannya dengan caraku sendiri supaya lebih mudah dipahami kupikir.

Z adalah satu-satunya hal yang tidak aku lakukan, dan mungkin sudah dibuktikan oleh orang-orang sukses disana. dan aku harus mulai belajar untuk menutup mulutku dari "sampah-sampah" keinginan yang dibuang di sembarang tempat. dan aku harus mulai secepatnya.


biarlah hanya aku, hatiku dan Tuhan yang tau apa yang aku ingin lakukan, apa yang ingin aku dapatkan dan apa yang ingin aku berikan. cukup lah.